Humanisme dalam Pendidikan

Latar Belakang

Kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) merupakan terobosan pendidikan tinggi di Indonesia yang berupaya memberi keleluasaan mahasiswa dalam mengeksplorasi potensi akademik dan non-akademik. Dari perspektif filsafat humanisme, pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pada pengembangan manusia seutuhnya, baik aspek moral, sosial, maupun intelektual. Oleh karena itu, konsep MBKM menjadi relevan untuk ditelaah melalui pendekatan humanistik, sebab pendidikan harus berpusat pada peserta didik sebagai subjek aktif pembelajaran (Atika, 2023:145)

Humanisme sebagai pandangan hidup yang berpusat pada manusia telah menjadi tema penting sejak era Renaisans. Dalam perkembangan filsafat umum, humanisme menegaskan kebebasan, otonomi moral, dan tanggung jawab manusia sebagai inti keberadaan. Di tengah krisis nilai, ketidakadilan sosial, dan degradasi lingkungan global, kajian humanisme kembali relevan sebagai kerangka etis dan filosofis yang menegakkan martabat manusia serta menciptakan keadilan (Zahraa et al., 2024:154)

Pendidikan Islam senantiasa menghadapi tantangan globalisasi yang membawa pergeseran nilai dan orientasi hidup. Dalam konteks ini, pendekatan humanisme dipandang sebagai upaya meneguhkan kembali orientasi pendidikan Islam yang berpusat pada manusia, agar peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk merumuskan model pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai humanisme dalam praktik pendidikan Islam (Zaini, 2019:23).

Perubahan sosial yang cepat menuntut sistem pendidikan agar mampu melahirkan generasi adaptif, kreatif, dan humanis. Pendidikan tidak lagi cukup dengan penekanan pada aspek kognitif, tetapi juga harus menumbuhkan nilai empati, tanggung jawab, dan keterlibatan sosial. Dalam konteks inilah, penelitian ini mengkaji relevansi pendekatan humanistik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pembangunan karakter peserta didik (Santi, 2017:45).

Fenomena dehumanisasi akibat sistem pendidikan yang terlalu menekankan aspek kognitif melahirkan kebutuhan akan paradigma baru berbasis humanisme. Pendidikan agama Islam dalam kerangka humanistik dapat menjadi solusi untuk menyeimbangkan dua peran manusia, yaitu sebagai abdullah dan khalifatullah. Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya mengajarkan doktrin, tetapi juga mengembangkan potensi kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik (Jamhuri, 2018:322)

Dalam sejarah pendidikan Islam, posisi pendidik sangat sentral dalam membentuk karakter peserta didik. Humanisme, sebagai filsafat modern yang menekankan martabat dan potensi manusia, dapat memberikan landasan dalam praktik pendidikan Islam. Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek dogmatis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan kemanusiaan, perikemanusiaan, dan keadilan sosial (Farida, 2015:109)

Humanisme memiliki akar historis dari Yunani Kuno hingga Renaisans, yang menegaskan manusia sebagai ukuran segala sesuatu. Dalam perkembangannya, humanisme menjadi fondasi penting dalam filsafat modern, khususnya dalam menghadapi krisis nilai di abad kontemporer. Kajian Sumasno Hadi menyoroti bagaimana humanisme klasik hingga modern dapat dijadikan pijakan untuk merespon persoalan kemanusiaan dewasa ini (Sumasno Hadi, 2012:110)

Fenomena

Meskipun kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kebebasan belajar, dalam praktiknya masih terdapat keraguan mengenai sejauh mana prinsip humanisme benar-benar terintegrasi dalam kurikulum. Apakah pendidikan dalam MBKM sudah menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif, ataukah masih terjebak dalam model instruksional yang kaku (Atika Cahya et al., 2023:146)

Humanisme sebagai filsafat umum diyakini mampu merespons krisis nilai global, namun implementasinya dalam konteks sosial-politik modern belum maksimal. Pertanyaan yang muncul ialah: bagaimana humanisme dapat dioperasionalkan untuk menjawab ketidakadilan sosial dan krisis lingkungan yang semakin kompleks? (Zahraa et al., 2024:155).

Pendidikan di Indonesia masih menghadapi masalah dehumanisasi, yakni hilangnya esensi pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia. Pendidikan sering terjebak pada orientasi kuantitatif dan hasil ujian, sehingga mengabaikan nilai-nilai humanis. Bagaimana pendidikan humanis dapat diimplementasikan agar mampu mengatasi problem dehumanisasi dalam sistem pendidikan nasional? (Zaini, 2019:63).

embelajaran bahasa Inggris di SMA masih cenderung berpusat pada guru, kurang memberi ruang kebebasan dan kreativitas siswa. Padahal filsafat pendidikan humanisme menuntut pembelajaran yang egaliter dan dialogis. Bagaimana penerapan filsafat humanisme dapat meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di sekolah menengah atas? (Santi, 2017:47).

Dalam konteks multikultural, pendidikan agama Islam dihadapkan pada tantangan bagaimana menanamkan nilai-nilai humanisme yang inklusif. Masalah yang muncul adalah: bagaimana pendidikan berbasis humanisme dapat menyeimbangkan peran manusia sebagai abdullah dan khalifatullah, serta menumbuhkan sikap toleransi di tengah pluralitas masyarakat? (Jamhuri, 2018:320).

Dunia pendidikan Islam di Indonesia masih didominasi oleh orientasi kognitif dan kurang menekankan aspek moralitas serta kemanusiaan. Fenomena tawuran pelajar, degradasi moral, dan lemahnya akhlak generasi muda menunjukkan adanya kesenjangan. Permasalahannya adalah: bagaimana konsep humanisme dapat diintegrasikan dalam pendidikan Islam sehingga mampu melahirkan manusia yang utuh dan berakhlak mulia? (Farida, 2015:107).

Humanisme telah berkembang dari akar klasik hingga modern, tetapi sering kali terjebak pada perdebatan teoritis. Permasalahan yang muncul adalah: bagaimana relevansi humanisme dalam merespons tantangan kontemporer, seperti krisis etika, degradasi moral, dan ketidakadilan sosial, sehingga tidak hanya berhenti sebagai wacana filosofis? (Hadi, 2012:111).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaporkan bahwa hingga tahun 2022 terdapat 250 perguruan tinggi yang telah mengimplementasikan kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) dengan lebih dari 100.000 mahasiswa mengikuti program magang, pertukaran pelajar, maupun riset mandiri (Kemdikbud, 2022 dalam Atika Cahya et al., 2023:147). Namun survei internal menunjukkan hanya 62% mahasiswa yang merasa mendapat kebebasan belajar sesuai prinsip humanisme.

Menurut laporan PBB tahun 2023, terdapat lebih dari 700 juta orang yang masih hidup dalam kondisi miskin ekstrem, dan 9,2% populasi dunia mengalami kelaparan kronis. Data ini menegaskan relevansi humanisme dalam menjawab ketidakadilan sosial global (Zahraa et al., 2024:156). Sementara itu, survei Pew Research (2022) menunjukkan 73% masyarakat global menilai krisis lingkungan sebagai ancaman terbesar, sehingga humanisme perlu dikontekstualisasikan pada isu lingkungan hidup.

Hasil survei UNDP (2018) menunjukkan bahwa 67% responden pelajar di Indonesia merasa proses belajar masih berorientasi pada hafalan dan ujian. Kondisi ini memperkuat temuan Nur Zaini (2019:64) bahwa sistem pendidikan lebih menekankan kuantitas nilai daripada kualitas kemanusiaan. Sementara itu, angka tawuran pelajar yang tercatat oleh KPAI pada tahun 2017 mencapai 1.354 kasus, menunjukkan lemahnya pendidikan humanis.

Berdasarkan data Kemendikbud (2016), hanya 32% siswa SMA di Indonesia yang mencapai standar minimal kompetensi bahasa Inggris. Hal ini diperkuat oleh hasil EF English Proficiency Index (2016) yang menempatkan Indonesia pada peringkat 32 dari 72 negara dengan skor 52,91, kategori low proficiency. Rendahnya kompetensi ini menunjukkan perlunya pendekatan humanis yang menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dalam belajar bahasa (Santi, 2017:49).

Universitas Yudharta Pasuruan, sebagai kampus berbasis multikultural, mencatat bahwa dari 6.000 mahasiswa aktif, sekitar 18% berasal dari latar belakang non-Muslim dan 22% dari berbagai etnis minoritas. Data internal universitas tahun 2018 menunjukkan peningkatan 25% partisipasi mahasiswa lintas agama dalam program dialog kebangsaan. Angka ini menunjukkan bahwa implementasi humanisme dalam pendidikan multikultural mampu memperkuat toleransi sosial (Jamhuri, 2018:321).

KPAI (2014) mencatat terdapat 2.318 kasus tawuran pelajar dalam kurun waktu lima tahun terakhir di Indonesia. Data ini mengindikasikan lemahnya penanaman nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Survei Puslitbang Kemenag (2013) juga menyebutkan bahwa hanya 41% siswa madrasah yang merasa mendapatkan pembelajaran akhlak secara mendalam. Fenomena ini memperkuat argumen Farida (2015:108) bahwa sistem pendidikan masih lebih menekankan aspek intelektual dibanding moralitas.

Menurut UNESCO (2011), sekitar 58 juta anak usia sekolah dasar di dunia tidak mengenyam pendidikan, sebagian besar di negara berkembang. Kondisi ini menggambarkan tantangan global yang relevan dengan konsep humanisme universal. Di Indonesia sendiri, BPS (2010) mencatat angka partisipasi sekolah pada usia 16–18 tahun baru mencapai 69%, menandakan masih adanya masalah akses pendidikan. Data ini relevan dengan analisis Sumasno Hadi (2012:112) yang menyoroti krisis pendidikan dalam perspektif humanisme.

Tinjauan Teori

Filsafat humanisme dalam pendidikan menekankan manusia sebagai pusat dari segala proses belajar. Maslow (1954) dengan teori hierarchy of needs menyatakan bahwa aktualisasi diri merupakan puncak kebutuhan manusia, sehingga pendidikan harus mampu memfasilitasi peserta didik untuk berkembang secara utuh. Comb (1970) menambahkan bahwa persepsi individu terhadap pengalaman belajar menjadi faktor kunci dalam pembentukan makna. Dalam konteks MBKM, humanisme berfungsi sebagai kerangka filosofis untuk merancang kurikulum yang mendorong kemandirian, kolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat (Atika Cahya et al., 2023:145).

Humanisme sebagai aliran filsafat berakar pada tradisi Yunani-Romawi, yang menekankan kebebasan, martabat, dan rasionalitas manusia (Bertens, 2013). Dalam perkembangannya, humanisme modern dipengaruhi oleh Renaisans dengan penekanan pada kreativitas dan otonomi moral (Mulyana, 2016). Teori ini relevan untuk menafsirkan fenomena kontemporer seperti HAM, kesetaraan, dan krisis lingkungan, karena humanisme memandang manusia sebagai aktor moral yang bertanggung jawab dalam menciptakan dunia yang lebih adil (Zahraa et al., 2024:154).

Konsep pendidikan humanis berpijak pada progresivisme John Dewey (1938), yang menekankan pendidikan sebagai proses pengalaman dan interaksi sosial. Tilaar (2005:112) menyebut pendidikan sebagai proses “memanusiakan manusia,” yakni membebaskan peserta didik untuk kreatif dan mandiri. Sebaliknya, dehumanisasi dalam pendidikan muncul ketika orientasi lebih menekankan kuantitas nilai daripada kualitas manusiawi (Sulaeman, 2000). Oleh karena itu, paradigma humanisme menjadi penting sebagai landasan teoritis untuk mengatasi krisis pendidikan modern (Zaini, 2019:64).

Filsafat pendidikan humanisme menekankan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Komar, 2006). Dalam pembelajaran bahasa, teori humanistik Rogers (1969) menegaskan pentingnya hubungan interpersonal dan empati guru-siswa untuk membangun pengalaman belajar bermakna. Tilaar dan Nugroho (2016) menekankan fungsi pendidikan sebagai transmisi kebudayaan dan pengembangan pribadi yang paripurna. Oleh karena itu, filsafat humanisme menjadi dasar dalam pembelajaran bahasa Inggris di SMA agar tercipta suasana egaliter, dialogis, dan memotivasi siswa mengembangkan potensinya (Santi, 2017:48).

Humanisme dalam perspektif pendidikan agama Islam menekankan keseimbangan peran manusia sebagai abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (pemimpin di bumi) (Abidin, 2011). Teori humanistik memandang setiap individu sebagai subjek unik yang berpotensi untuk berkembang (Partanto, 1994). Nilai-nilai multikulturalisme, seperti tawasuth, tawazun, ta’adul, dan tasamuh, menjadi implementasi praktis dari pendidikan humanistik yang berorientasi pada inklusivitas dan toleransi sosial (Jamhuri, 2018:321).

Humanisme dalam pendidikan Islam berakar pada pandangan bahwa pendidikan harus membentuk manusia seutuhnya, meliputi aspek jasmani, rohani, akhlak, dan intelektual (Madjid, 2010:173). Mas’ud (2002) menekankan bahwa humanisme adalah aliran filsafat yang berpusat pada kebutuhan manusia dan optimisme terhadap kemampuannya. Dalam Al-Qur’an, pendidikan dipahami sebagai proses humanisasi yang tidak hanya mencerdaskan intelektual tetapi juga menumbuhkan moralitas dan akhlak mulia (Farida, 2015:109).

Humanisme klasik dipengaruhi oleh pemikiran Protagoras, yang menyatakan bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. Perkembangan humanisme modern ditandai dengan munculnya pemikiran sekuler pada era Pencerahan yang menekankan kebebasan berpikir (Santoso, 2003). Dalam konteks kontemporer, humanisme dipahami sebagai paradigma etis untuk merespons krisis kemanusiaan, dengan menegakkan martabat dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, teori humanisme menjadi dasar konseptual untuk memahami dinamika pendidikan dan filsafat di era modern (Hadi, 2012:111).

Daftar Pustaka :

Abidin, Z. (2011). Filsafat Manusia: Memahami Manusia melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Atika Cahya, A., Prasetyo, S., Wulandari, N. F., & Chairy, A. (2023). Konsep Pendidikan Perspektif Filsafat Humanisme dalam MBKM. Jurnal Filsafat Indonesia, 6(2), 143–151.

Bertens, K. (2013). Etika. Jakarta: Gramedia.

Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.

Farida, Y. E. (2015). Humanisme dalam Pendidikan Islam. Jurnal Tarbawi, 12(1), 106–115.

Hadi, S. (2012). Konsep Humanisme dalam Filsafat. Jurnal Filsafat, 22, 110–112.

Jamhuri, M. (2018). Humanisme sebagai Nilai Pendekatan Efektif dalam Pendidikan Agama Islam. Jurnal al-Murabbi, 3(1), 317–322.

Komar, O. (2006). Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Madjid, N. (2010). Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Jakarta: Paramadina.

Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper.

Mas’ud, A. (2002). Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Santi, M. (2017). Filsafat Pendidikan Humanisme dalam Perspektif Pembelajaran Bahasa Inggris. Prosiding Semnas, 27 April, 45–49.

Tilaar, H. A. R. (2005). Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zaini, N. (2019). Konsep Pendidikan Humanis dan Implementasinya. Jurnal Karangan, 1(1), 62–72.

Zahraa, A., Sipahutara, Y. M., Al-hafizh, M., & Syahputra, H. (2024). Humanisme dalam Konteks Filsafat Umum. Jurnal Penelitian Medan Agama, 15(2), 153–158.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

526 comments

  1. More substantial than most of what I find searching for this topic online, and a stop at claritybeforevelocity kept that quality consistent, this is one of those sites where the writing actually rewards careful reading rather than punishing the patient reader with empty filler stretched out across long paragraphs that say very little.

  2. Now wishing I had found this site sooner, and a look at intentionalvelocity extended that mild regret, the calculation of how many years of good content I missed by not finding the right sources earlier is one I try not to make too often but it does come up sometimes when I find sites this good.

  3. Now realising the topic deserved better treatment than it has been getting elsewhere, and a look at forwardthinkingcore extended that broader recognition, content that exposes the gap between actual quality and average quality elsewhere is doing the quiet work of raising standards and this site is contributing to that elevation in its own corner.

  4. Quietly enjoying that I have found a new site to follow for the topic, and a look at urbanriders reinforced the small pleasure of the find, the discovery of new high quality sources is one of the more durable pleasures of careful internet reading and this site has been generating that discovery pleasure at multiple points already today.

  5. Now noticing the careful balance the post struck between confidence and humility, and a stop at actionfeedsprogress maintained the same balance, finding the line between asserting and admitting is hard and this site has clearly developed the calibration to walk that line consistently which produces a more persuasive reading experience for me.

  6. Ze dolgo casa nisem vedel, kako naprej. Potem pa sem po nakljucju nasel nekaj, kar je spremenilo vse. Govorim o ambulantnem zdravljenju alkoholizma pri Dr Vorobjev centru. Veste, odvisnost od alkohola je zahrbtna. In ljudje se sramujejo prositi za pomoc. Zato svetujem, da si vzamete cas in preberete posodobljene podatke, ki so na voljo na tej povezavi: odvajanje od alkohola odvajanje od alkohola. Na tej povezavi so odgovori na vsa vprasanja.

    Zdaj zivim polno zivljenje brez alkohola. Ni bilo lahko, ampak rezultat govori sam zase. Ce kogarkoli, ki ga imate radi se sooca s to tezavo – resnicno priporocam. Nikoli ni prepozno za nov zacetek.

  7. Decided I would read the archives over the weekend, and a stop at glowharbor confirmed that the archives would be worth the time, very few sites have archives I would actively read through but this one has earned that level of interest based on the consistent quality across what I have sampled so far.

  8. Started reading and ended an hour later without realising the time had passed, and a look at winterhaven produced the same time dilation effect, when content makes time feel different the writer has achieved something well beyond the average and this site is producing that experience for me reliably across multiple readings.

  9. If you asked me to point to a recent positive sign for the open web this site would be near the top, and a stop at progresswithclarity reinforced that designation, the few sites that serve as evidence the web can still produce quality independent content are precious and this one has clearly become one for me.

  10. Worth pointing out that the writer made the topic feel more interesting than I had been expecting, and a look at expertvoyager continued that elevation effect, content that improves the apparent quality of its subject through skilled treatment is doing something real and this site has clearly developed that kind of editorial alchemy throughout.

  11. Honestly enjoyed not being sold anything for the entire duration of the post, and a look at ideasneedmotion kept that pleasant absence going across more pages, content that exists for its own sake rather than as a funnel to a paid product is increasingly rare and worth supporting where I can find it.

  12. Solid information that lines up with what I have been hearing from other reliable sources, and after my visit to growththroughmotion I was even more certain of that, this site checks out which is something I value highly when so many places online play loose with the facts to chase a quick click.

  13. Adding this to my list of go to references for the topic, and a stop at actioncreatestraction confirmed the rest of the site deserves the same, definitely the kind of resource that earns its place rather than getting forgotten the moment the next interesting article shows up in my feed somewhere else on the web.

  14. Decided after reading this that I would check this site weekly going forward, and a stop at rapidcourier reinforced that commitment, deciding to add a site to a regular rotation requires meeting a quality bar that very few places clear and this one cleared it cleanly without any noticeable effort or marketing push behind it.

  15. Recommended without reservation for anyone interested in the topic at any level of expertise, and a look at focusacceleration only strengthens that recommendation, this site clearly knows how to serve readers across a range of backgrounds without watering down the content or talking past anyone in the audience which is genuinely impressive to see.

  16. Liked that the post resisted a sales pitch ending, and a stop at clarityshift maintained the no pitch approach, content that ends without trying to convert me into a customer or subscriber is content that has confidence in its own value and this site is clearly playing the long game on reader trust.

  17. During a reading session that included several other sources this one stood out, and a look at artistneedle continued the standout quality, the side by side comparison of sources during research is a useful exercise and this site has been winning those comparisons for me consistently across multiple research sessions during the last week.

  18. Liked the careful word choice throughout, every term seemed picked for a reason rather than thrown in casually, and a stop at momentumworkflow continued that precise style, this kind of attention to small details is what separates careful writing from the usual rushed content that dominates blog spaces today across pretty much every topic I follow.

  19. Reading this triggered a small but real correction in something I had assumed, and a stop at progressengineon extended that corrective effect, content that updates my beliefs through evidence rather than rhetoric is content with intellectual integrity and this site has earned that label consistently across the pieces I have read so far today.

  20. Skimmed first and then went back to read carefully, and the careful read paid off in places I had missed, and a stop at intentionalvelocity got the same treatment, the rare site whose content rewards a second pass is content I want more of in my regular rotation rather than disposable single read articles.

  21. Closed the laptop and walked away thinking about the post for a good twenty minutes, and a stop at stellarchoice produced similar lingering thoughts, content that survives the closing of the browser tab is content that has actually entered the mind rather than just decorating the screen for the duration of the reading.

  22. Zivjo, dolgo nisem pisal. Moram povedati svojo zgodbo. Bil sem na robu, iskreno povedano. Potem pa sem po dolgem iskanju nasel zdravljenje alkoholizma pri metodi, ki resnicno deluje. Nisem verjel, da bo delovalo. Ampak sem se odlocil za ta korak. In zdaj, ko gledam nazaj, lahko recem, da je bilo to resitev, ki sem jo iskal. Vse uradne informacije in podrobnosti sem preveril na spletni strani, posodobljene podatke pa si lahko ogledate tukaj: odvisnost od alkohol odvisnost od alkohol. Alkoholizem is bolezen, ne slabost.

    Ce iscete resitev za to tezavo — ne odlasajte s to odlocitvijo. Nikoli ni prepozno za nov zacetek.

  23. Dolga leta sem se boril sam. Potem pa sem po priporocilu nasel nekaj, kar je spremenilo vse. Govorim o zdravljenju alkoholizma pri metodi, ki resnicno deluje. Veste, ni to le navada, ampak resna tezava. In mnogi ne vedo, kam se obrniti. Zato priporocam, da preverite celoten postopek na spletni strani, ki so na voljo na tej povezavi: alkoholizem alkoholizem. Na tej povezavi so odgovori na vsa vprasanja.

    Zdaj zivim polno zivljenje brez alkohola. Pot je bila naporna, ampak zdaj sem ponosen nase. Ce nekdo v vasi okolici se sooca s to tezavo – ne odlasajte. Srecno na tej poti!

  24. Liked the careful selection of which details to include and which to skip, and a stop at signalcreatesmovement reflected the same editorial judgement, knowing what to leave out is just as important as knowing what to include and this site has clearly figured out where that line sits for the topics it covers regularly.

  25. A piece that prompted a small mental rearrangement of how I order related ideas, and a look at festiveglow extended that rearranging effect, content that affects the structure of my thinking rather than just adding to it is content with the deepest kind of impact and this site is reaching that depth for me today.

  26. Once I trust a site this much I tend to read everything they publish and that is the trajectory I am on with this one, and a stop at radiantderma confirmed the trajectory, the rare progression from interested reader to comprehensive reader is something only certain sites earn and this one is earning that progression rapidly.